Sore
itu,,,
Matahari
berwarna jingga, ku lihat dari dalam mobil yang sedang aku tunggangi bersama
kekasihku Aditya, menemani kerinduanku terhadap lelaki disampingku yang sedang
leka menyetir. Tiba-tiba ada sesuatu
yang menggenggam tanganku, ngenggaman itu terasa sangat hangat, menghangati
tanganku hingga seluruh tubuhku yang sedari tadi sudah merasa dingin karena AC
mobil yang kami tunggangi terlalu besar. Akupun menengok kearah Aditya ternyata diapun
demikian, senyumpun mengembang dari bibir kami masing-masing dan saling menatap
lembut, sembari ku benahi genggamannya, ku kaitkan jari-jariku disela-sela
jemarinya yang kuanggap cukup mungil untuk ukuran jari seorang laki-laki hanya
size telapak tangannya saja yang lebih besar dari telapak tanganku,,,sehingga
posisi tangan kami saling menggenggam.
“sayang…”
satu kata terucap dari mulutnya yang selalu membuat jantungku berdebar jika ku
mendengarnya.
“iya…..”
dengan nada lembut aku jawab panggilannya dengan senyum yang masih mengembang
dibibirku.
“kita
mau kemana?” tanyanya, yang sedari tadi mengendarai mobil yang kami tunggangi
tanpa tujuan.
Sebelum
ku jawab pertanyaannya aku menghela nafas sebentar untuk mengatur emosiku, yang
sudah mencuat-cuat sedari seminggu yang lalu, emosi kerinduan yang begitu
mendalam terhadap lelaki yang sekarang berada disampingku ini. Aku tatap lembut Aditya dengan penuh perhatian sembari aku longgarkan genggaman tanganku, diapun mengerti
dan melakukan demikian melonggorkan genggaman kami.
“kamu nampak lelah sekali sayang…” aku jawab
sambil meraih wajahnya dan membelainya lembut. Nampak seperti bocah kecil yang
keasyikan dibelai wajahnya sambil membenamkan setengah dari wajah sampingnya
kedalam tanganku yang membelainya.
Hanya
senyum tipis yang aditya tunjukkan ketika mendengar kataku, “kamu tahu? Rasanya
aku ingin sekali mencium bibirmu yang mungil itu, yang tersimpan gigi kelinci
yang rapi didalamnya, yang jika tersenyum akan terlihat sekali gigi-gigi
panjang rapi itu yang bisa membuat senyummu nampak lebar dan menawan” kataku
dalam hati, aku tahu aditya sedang sangat lelah sekali, dan itu sangat terlihat
dari raut wajahnya yang ku lihat sangat layu disore itu, karena rasa rindu yang
lebih kuat dari rasa lelahnya diapun seolah-olah tak merasakan kelelahan itu
didepanku tapi aku rasa selalu tahu apa yang dia rasa, karena semalaman aditya
habis melakukan perjalanan jauh dari Jogjakarta ke Jakarta, dan sesuai kabar
yang aditya update padaku kegiatannya sangat padat selama seminggu ia di Jogjakarta
jadi aku pikir pastinya dia sedikit sekali waktunya untuk istirahat apalagi dia
memiliki insomia setiap malam,,,jadi waktunya itu sangat kurang sekali untuk
istirahat.
“adityaaaa…love
you more” aku mengucap sendiri dalam hati sembari memandangi senyum tipis dibibirnya
yang membuatku tergoda menanggapi jawabanku tadi, sedangkan dia masih tetap
leka mengendarai mobil kami yang sedari tadi melaju tanpa tujuan.
“sayang…kamu
nampak lelah sekali” aku ulangi kataku lagi.
“kamu
seperti tak terurus selama disana,,,”aku lanjutkan kataku dengan penuh
perhatian padanya. Ada rasa khawatir dalam hatiku melihat dia nampak lelah,
takut kalau dia paksakan pergi untuk jalan bersamaku nantinya dia akan jatuh
sakit dan itu nantinya akan sangat membuatku merasa sedih dan bersalah.
“I’m
okay sayang…” jawabnya menanggapi kataku sembari mengelus lembut rambutku
dengan tangan kirinya yang tak dia gunakan untuk menyetir.
“true?...”
tanyaku dengan sedikit menunjukan muka khawatirku padanya.
“alright
mysweety…” jawabnya dengan senyum yang agak lebar dari sebelumnya sehingga
menutupi wajah lelahnya itu.
“okay…terus
kita mau kemana sayang?...” tanyanya yang semula ia lontarkan padaku.
“hmmm…I
don’t know” sambil menggelengkan kepalaku aku jawab pertanyaannya.
“hmmm…bagaimana
kalau kita pergi ke suatu tempat yang tak berpenghuni?” ajaknya dengan sedikit
menggodaku sambil mengkerlingkan satu matanya. Akupun
sedikit tersenyum, tanpa menjawab usulannya.
“bagaimana
sayang?” tanyanya lagi memastikan ajakannya aku setujui, kali ini dia
menanyakannya sembari mengambil tanganku dan menciumnya.
Oooohhh…rasanya
seperti melayang saat kau cium tanganku, ketika tanganku menempel dibibirnya,
sesuatu yang lembut dan dingin membuat aku merasakan desiran darah didalam
tulang belulangku.
“aku
ingin merasakan suasana berdua saja, hanya kita berdua” ucapnya lagi.
“kamu
tahu aditya? Akupun ingin sekali merasakan suasana berdua saja dengan kamu”
lagi-lagi aku berbicara sendiri dalam hati.
“okay….”dengan
senang hati aku menjawabnya.
“bener?”
tanyanya lagi memastikan jawabanku tak salah dia dengar.
“iyaaaaaaa…..”aku
jawab lagi dengan sedikit teriak manja padanya….
“hahahahaaa…”
adityapun tertawa mendengar teriakanku. Dan kamipun sama-sama tertawa.
“boleh
aku tanya sayang?” tanyaku padanya.
“yup,
apa itu?” lagi-lagi matanya menggodaku. Aku menahan geli melihat tingkahnya.
“kita
mau ke kuburan?” tanyaku polos.
“hah?”
aditya membulatkan matanya saat kata itu dia dengar dari mulutku. Kemudian dia tertawa
lagi. Aku hanya bisa mematung sambil menikmati pemandangan indah di depanku. Sesosok
laki-laki yang membuatku selalu merindunya.
“kita
mau ke dunia kita. Hanya aku-dan-kamu” sambil mengusap pipiku lembut Aditya tersenyum
tulus padaku.
“ke dunia
K-I-T-A, hanya kita, karena KITA hanya berisi AKU dan KAMU” mata hitamnya menatapku
tajam. Suasana menjadi hening aku tidak bisa berkata apapun saat tatapan matanya benar-benar mengenai hatiku.
By Sri Mulyani/ Jakarta


0 Response to "#Cerpen-"Just We""
Posting Komentar
Thank For Your Visit in My Blog